Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perilaku Anak

Tulisan ini dikutip dari Catatan Adi W Gunawan.

Beberapa waktu lalu datang ke AWGI sepasang suami istri beserta putra mereka, sebut saja Budi, usia 9 tahun murid kelas tiga SD. Budi berasal dari luar Surabaya dengan waktu tempuh terbang sekitar satu setengah jam. Budi datang ke saya atas rekomendasi guru BK yang kebetulan sudah membaca beberapa buku saya.

Apa masalahnya?

Budi tidak punya motivasi belajar. Di kelas, Budi sering melamun, tidak konsentrasi, cenderung kasar, suka marah, suka melawan guru, tidak mau mengerjakan tugas, dan buku pelajaran sering tertinggal. Budi hampir tidak pernah mau menulis di kelas.

Kedua orangtua Budi menjelaskan bahwa mereka sudah membawa Budi ke banyak dokter anak, psikolog, psikiater, konselor, dll.. dll. Intinya, Budi tidak bisa berubah.

Orangtua juga mengeluh bahwa sekolah Budi tidak bisa mengajari Budi sopan santun, moralitas, etika, disiplin, dan meningkatkan motivasi belajar Budi.

Singkat cerita, saya lakukan wawancara pada kedua orangtua Budi untuk mengetahui pola asuh, interaksi Budi dan orangtua serta saudaranya, kegiatan yang sehari-hari Budi lakukan, dll.

Dari wawancara ini saya ketahu bahwa Budi punya dua kakak dan satu adik. Tiga saudaranya semuanya baik perkembangannya. Hanya Budi yang bermasalah.

Budi sewaktu kecil sering dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Sering dimarahi karena agak lambat dalam belajar, sering dipukul dan dihukum ayah dan ibunya karena tidak juga mengerti padahal sudah diajari berkali-kali materi yang sama. Perlakuan kasar ini telah Budi alami sejak TK, SD kelas 1, dan 2.

Orangtuanya juga menyerahkan pendampingan belajar di rumah pada guru les. Semuanya terserah guru les. Orangtuanya, terutama ibunya, merasa ini bukan tanggung jawab mereka.

Saya katakan bahwa apa yang mereka lakukan tentu sangat melukai hati Budi. Orangtuanya berkilah, “Lho, itu kan dulu. Sekarang kami sudah tidak pernah pukul Budi. Kalau marah masih. Tapi kan sudah tidak pukul.”

Saya bilang, “The damage has been done.” Lalu saya beri masing-masing orangtua selembar kertas putih bersih, ukuran A4. Saya minta mereka mengamati bentuk dan permukaan kertas, lalu minta mereka meremas-remas kertas ini. Setelahnya saya minta mereka mengamati lagi.

Apa yang terjadi?

Permukaan kertas menjadi jelek, lecek, penuh dengan bekas “luka” (baca: garis-garis bekas remasan). Saya bilang pada mereka, “Beginilah kondisi hati Budi akibat perlakuan Anda selaku orangtua yang tidak menghargai anak, mendidik dengan kekerasan, bukan dengan cinta.”

Kedua orangtuanya tertunduk, diam, dan saya lihat mata ibunya mulai merah dan berair. Ya… Ibunya menangis walau berusaha ia tahan. Saya tahu apa yang ia rasakan saat ini.

Mengenai sikap Budi yang kasar, saya sampaikan bahwa ini adalah hasil dari didikan di rumah. Sekolah tidak mungkin bisa mengajari moralitas, disiplin, sikap, dll, sebaik orangtua. Tugas sekolah adalah membantu anak berkembang dari sisi kemampuan berpikir, dan meneruskan atau memperkuat hasil didikan di rumah.

Apapun yang anak tampilkan di sekolah sepenuhnya adalah hasil dari pendidikan di rumah. Jadi, bila anak tidak sopan, kurang ajar, kasar, ini sepenuhnya mencerminkan kualitas pendidikan yang ia terima di rumah. Dan secara langsung mencerminkan kualitas kedua orangtuanya.

Mendengar ini, kedua orangtua Budi kembali terdiam dan menunduk. Tidak berani memandang mata saya.

“Soal buku yang sering tertinggal, ini adalah tanggung jawab orangtua untuk memastikan anak bawa buku lengkap. Orangtua yang tidak peduli pada anak tidak akan mau repot-repot membaca buku agenda dan memeriksa buku anaknya, di malam hari. Apakah anda, selaku orangtua, membaca agenda anak setiap hari, dan membubuhkan tanda tangan?” tanya saya lagi.

Ruangan menjadi senyap. Tidak ada jawaban. Yang ada hanya desahan napas yang berat, mata yang semakin memerah dan sembab, serta emosi yang semakin tinggi.

“Bapak dan Ibu tidak perlu larut dalam kesedihan. Saya akan ajari cara untuk membantu Budi sehingga menjadi anak yang baik, sopan, semangat, disiplin, dan secara akademik bagus. Mau?” tanya saya.

“Sangat mau,” jawab kedua orangtua Budi.

Saya jelaskan panjang lebar prinsip parenting yang baik dan benar, pentingnya mengisi tangki cinta anak, menerima anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tidak boleh membandingkan anak, menggunakan semantik yang tepat, melakukan Hypno-Sleep dan masih banyak lagi.

Terutama, saya menekankan pada kedua orangtuanya, bila memungkinkan Budi berhenti les dan Ibunya yang mengajari Budi. Pelajaran kelas tiga SD masih mudah dan tentu Ibu atau Ayahnya bisa mengajarinya.

Bila tetap mau menggunakan guru les, Ibunya tetap perlu hadir di dalam ruangan tempat Budi belajar dan memberi perhatian serta dukungan.

Ayah Budi bertanya, “Apakah semudah ini Budi bisa berubah?”

Dengan tegas saya jawab, “Ya.. semudah ini. Yang tidak mudah adalah komitmen dari kedua orangtua untuk melakukan yang saya minta. Bapak dan Ibu bersedia melakukan yang saya minta, demi kebaikan Budi?”

“Bersedia Pak Adi. Selama ini kami banyak bawa Budi ke orang yang kami anggap bisa membantu Budi. Mereka semua mengatakan Budi bermasalah. Tapi tidak ada yang menjelaskan detil, gamblang, apa yang perlu kami lakukan untuk bisa bantu anak kami ini,” jawab si ayah.

Saya tentu tidak percaya apa yang disampaikan ayah Budi. Saya yakin sudah banyak yang beri nasihat, saran, atau masukan pada mereka. Namun, mereka tidak melakukannya.

Dari mana saya tahu? Mudah sekali. Sikap, bahasa tubuh, pilihan kata yang digunakan kedua orangtua Budi saat konseling dengan saya menunjukkan semua hal ini.

Namun saya punya cara untuk menyentuh hati mereka. Dan akhirnya mereka luluh juga dan bersedia melakukan yang saya minta, demi kebaikan anaknya.

Setelah itu barulah saya minta Budi masuk ke ruang terapi dan saya lakukan proses terapi untuk menyembuhkan luka batin akibat perlakuan kedua orangtuanya dulu.

Empat hari kemudian saya dapat email dari guru BK di sekolah Budi mengabarkan bahwa Budi sudah mulai berubah. Di kelas sudah lebih tenang, lebih sopan, dan mau menjalani proses belajar di kelas dengan lebih semangat.

(Orangtua Budi mengijinkan kisah ini saya posting di FB untuk pembelajaran bersama.)

One thought on “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perilaku Anak

  1. hmm…berarti pendidikan untuk anak, sebenarnya lebih dominan ke pendidikan di rumahnya……
    nah pertanyaannya….misal jika pendidikan di rumah dan di sekolah sma2 bagusnya tapi tetapi masih sikap budi seperti itu apa yang kita harus lakukan???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s