Setiap Tempat Adalah Sekolah, Setiap Orang Adalah Guru dan Setiap Buku Adalah Ilmu

sampah.jpg

Salah seorang pernah berkata pada sampah botol tentang seonggok kata yang begitu berarti, mengandung makna yang sangat dalam dan tajam. Kata-kata nya membuat kita menganggukkan kepala seketika itu juga, dia berkata “setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru dan setiap buku adalah ilmu”. Kata-kata ini tertuang pada sebuah botol yang mungkin bagi kebanyakan orang tidak mempunyai arti dan tidak berharga. Nyatanya saja botol tersebut ditemukan terdampar di tepi pantai yang indah dengan sejuta sampah yang menyelimutinya.

Seperti yang tertuang di botol tersebut “setiap tempat adalah sekolah”, maka kali ini ada sedikit ocehan nyata yang dilakukan oleh generasi bangsa, dimana sekolah tidak hanya mengajarkan menjadi seseorang yang pandai dengan ilmu pasti, tetapi juga mengajarkan menjadi seseorang yang pandai dalam melihat permasalahan yang ada dilingkungan sekitar serta bertindak langsung terhadap permasalahan yang ada. Ini adalah sebuah sekolah yang tidak memperdulikan angka sembilan atau sepuluh tertuang di kertas sebagai bukti akhir perjuangan mereka.

Sedikit ocehan dipagi hari pada tanggal 9 Mei 2018, ketika seluruh anak-anak SD 6 sekolahalam minangkabau siap dengan perjalanan panjang dalam rangka ujian sekolahalam minangkabau. Mmm… bagaimana mungkin aku bisa menebak kalau mereka semua siap dengan perjalanan panjang dihari itu?. Yaa… aku mengetahuinya dari senyum lebar yang terdampar di bibir mereka. Tetapi ketika itu jam masih menunjukkan pukul 07:30, sehingga masih sedikit para pejuang yang akan bertempur bersama dunia nyata. Dunia yang benar-benar membutuhkan uluran tangan mereka. Namun tidak butuh waktu lama untuk menunggu mereka datang. Tepat pukul 08:07 seluruh anak sudah berkumpul di depan kantor untuk melengkapi seluruh kebutuhan dihari itu. Mulai dari topi untuk menghalagi terik matahari, plastik sampah berwarna hitam yang hampir mirip dengan kantong evakuasi para korban bencana, serta persiapan cemilan dan air minum.

Oke…kali ini adalah tugas leader setiap kelompok yang harus memastikan apakah perlengkapan kelompok dan perlengkapan pribadi setiap anggota sudah lengkap dan cukup. Mmm… tetapi kita belum bisa melangkah keluar dari gerbang sekolah, karena masih ada beberapa administrasi yang harus dilengkapi dan diurus untuk misi kali ini. Setelah semua selesai barulah kaki-kaki kecil dapat melangkah keluar pagar untuk memulai pelajaran baru dengan guru-guru yang baru.

Semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru… ya kata-kata yang sekali lagi saya katakan sangat cocok dengan kegiatan ini.  Apakah kamu tahu, tempat yang kami kunjungi kali ini adalah sekolah baru bagi kami,  ditemani dengan orang-orang yang tidak diberi gelar resmi sebagai seorang guru. Tetapi mereka adalah guru-guru yang sangat luar bisa. Mereka adalah pemuda pemudi bangsa yang berjuang melalui sebuah karya. Itu adalah mereka para penggiat “Komunitas Villa A”.

Berbagi ilmu melalui suatu aksi nyata dalam sebuah realita kehidupan yang memprihatinkan. Ilmunya bukan sekedar teori yang ada pada kebanyakan buku pelajaran. Tetapi ilmu yang bisa di rasakan oleh seluruh panca indra manusia. Belajar teori itu perlu, tetapi terjun langsung untuk melihat adalah sebuah teori nyata yang tidak perlu dihafal dengan memejamkan mata sambil berkomat-kamit membaca mantra.

Sebuah tempat yang luas, indah namun sayang sekali, kalau saja itu adalah donat yang ditaburi dengan toping kacang atau keju pastilah enak untuk dipandang dan dimakan. Tapi tempat ini bukanlah sebuah donat, tempat ini adalah perbatasan antara daratan dan lautan. Dimana tempat ini dijadikan sebagai salah satu tempat favorit bagi seluruh lapisan masyarakat.Sayang sekali tempat ini penuh dengan topping-topping tidak sedap dipandang mata, topping-topping yang dibuang lalu dilupakan begitu saja. Tetapi si Biru yang tenang dan ganas tidak mau menerimanya begitu saja. Ia kembalikan semua, entah pada tepian yang mana, yang jelas si Biru tidak menerima topping busuk ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.

Dengan beranggotakan 14 orang kami siap menuangkan energi untuk menyapunya pergi dari tepian, memilihnya, mengumpulkannya dan memisahkan topping-topping tersebut menjadi 3 golongan.

Banyak… cukup banyak yang kami dapatkan dari berbagai jenis topping yang terkumpul, botol, kayu, plastik, karet bahkan bangkai hewan pun kami temukan. Untuk membuang topping-topping itu ke laut atau sungai tidak butuh banyak tenaga, tetapi untuk mengambilnya kembali tidak cukup dengan satu atau dua orang saja. Ketika kita membuangnya, kita hanya membutuhkan waktu 1 menit saja, sedangkan untuk memilih dan mengumpulkannya kembali membutuhkan waktu berjam-jam, atau mungkin berhari-hari. Oleh sebab itu sayangilah lingkungan sekitar kita, buanglah sampah pada tempatnya, ketika engkau berlaku buruk pada alam, maka alam tidak akan tinggal diam atas perbuatanmu.

Satu kalimat yang terlontar dari bibir mereka anak-anak sekolahalam minangkabau sambil tertawa ria, “hari ini kita menjadi pemulung”, tidak ada sekolah yang mengajarkan anak-anak nya menjadi pemulung. “Tetapi jangan takut menjadi seorang pemulung” ucap salah seorang guru yang  tak bergelar, pemulung adalah pahlawan yang sangat berarti, tanpa dia mungkin apalah jadinya sampah-sampah ini, hanya terbengkalai begitu saja, dan seluruh anak-anak pun berkata “aku tidak malu menjadi pemulung pada hari ini, kerena pemulung itu adalah pahlawan”. Ya begitulah belajar dari alam, belajar dari lingkungan sekitar, mengambil peran dalam setiap tindakan, bukan hanya berpangku tangan dengan sejuta kalimat atau mungkin lamunan panjang.

Oleh Citra Larici

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.